Senin, 15 Oktober 2012

Penanggulangan Bencana Alam


BANJIR

Dampak yang ditimbulkan oleh banjir
Primer
·                     Kerusakan fisik - Mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanahjalan raya, dankanal.
Sekunder
·                     Persediaan air – Kontaminasi airAir minum bersih mulai langka.
·                     Penyakit - Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air.
·                     Pertanian dan persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen. Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
·                     Pepohonan - Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas.
·                     Transportasi - Jalur transportasi rusak, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.
Dampak tersier/jangka panjang
·                     Ekonomi - Kesulitan ekonomi karena kerusakan pemukiman yang terjadi akibat banjir; dalam sector pariwisata, menurunnya minat wiasatawan;  biaya pembangunan kembali; kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan harga, dll.
Dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, ternyata banjir (banjir air skala kecil) juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti mengisi kembali air tanah, menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada tanah. Air banjir menyediakan air yang cukup di kawasan kering dan semi-kering yang curah hujannya tidak menentu sepanjang tahun. Air banjir tawar memainkan peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem di koridor sungai dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan keragaman makhluk hidup di dataran. Banjir menambahkan banyak nutrisi untuk danau dan sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-tahun mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk pengembangbiakan ikan (sedikit predasi dan banyak nutrisi).



Penanggulangan banjir
Mencegah dan menanggulangi banjir tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja atau orang perorang saja. Dibutuhkan komitmen dan kerjasama berbagai pihak untuk menghindarkan Jakarta dan kota lain di Indonesia dari banjir besar.
Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan itu antara lain:
·         Membuang lubang-lubang serapan air
·         Memperbanyak ruang terbuka hijau
·         Mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa
Meninggikan bangunan rumah memang dapat menyelamatkan harta benda kita ketika banjir terjadi, namun kita tidak mencegah terjadinya banjir lagi. Manusia yang mengakibatkan banjir, manusia pula yang harus bersama-sama menyelamatkan kota. Menyelamatkan Jakarta dari banjir besar bukan hanya karena berarti menyelamatkan harta benda pribadi, namun juga menyelamatkan wajah bangsa ini di mata dunia.
Partisipasi seluruh elemen masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir. Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum banjir penanganan saat banjir , dan pemulihan setelah banjir. Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan penanggulangan banjir yang berkesinambungan, Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang dimulai dari banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan sebelum bencana banjir terjadi kembali. Pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai sampai wilayah dataran banjir dan kegiatan non-fisik seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir.





GEMPA BUMI
Cara Penanggulangan Gempa Bumi

Gempa bumi merupakan gejala alam yang membawa kerusakan dan kehancuran bagi lingkungan dan makhluk hidup, sehingga gejala alam tersebut menjadi suatu bencana. Diperkirakan gempa terjadi di dunia 400 – 500 kali dalam setahun dan di Indonesia sekitar 40 – 50 kali dalam setahun.
Oleh karena membawa dampak merugikan bagi kehidupan khususnya kehidupan manusia maka diperlukan upaya-upaya antisipasi baik sebelum terjadi gempa, saat terjadi gempa, dan setelah terjadi gempa. Upaya tersebut diperlukan mengingat letak Indonesia yang berada pada zona utama gempa bumi.


A.     Upaya penanggulangan sebelum terjadi gempa:
1.      Mengetahui pintu-pintu keluar masuk untuk keadaan darurat.
2.      Barang/benda yang berbobot berat disimpan di tempat yang kokoh dan stabil terhadap guncangan.
3.      Pipa saluran gas dan pipa saluran air dipastikan tidak bocor dan tertutup baik saat tidak digunakan untuk mencegah bencana pengiring gempa seperti kebakaran dan gangguan sanitasi.
4.      Kabel-kabel listrik ditata rapi untuk menghindari hubungan singkat akibat guncangan dan dipastikan sekering berfungsi dengan baik.

B.     Upaya penanggulangan saat terjadi gempa:
1.      Jika berada di dalam bangunan: usahakan tetap tenang dan tidak panic, gunakan pintu dan tangga darurat untuk keluar dan jangan menggunakan lift atau elevator, jangan berlindung di bawah jembatan, jalan laying, ataupun benda-benda yang menggantung tapi berlindunglah di bawah meja yang kokoh, dan jangan dulu masuk bangunan sebelum dipastikan tidak terjadi gempa susulan selang beberapa lama.
2.      Jika berada di luar bangunan: carilah tanah lapang, jangan berlindung di bawah pohon atau di tempat dekat tiang/gardu listrik, dan jika getaran gempa kuat, ambillah posisi duduk daripada berdiri.
3.      Jika sedang mengemudikan kendaraan; hentikan perjalanan dan segera menepi, jangan memberhentikan kendaraan di atas jembatan, jalan laying, atau persimpangan jalan, dan jangan segera melanjutkan perjalanan sebelum dipastikan tidak terjadi gempa susulan selang beberapa lama.

C.     Upaya penanggulangan setelah terjadi gempa:
1.      Periksa diri Anda dan orang di sekeliling Anda apakah baik-baik saja atau mengalami luka-lukaa.
2.      Jika terdapat korban yang mengalami luka-luka, gunakan kotak P3K sebagai pertolongan pertama dan segera bawa ke Puskesmas/rumah sakit terdekat.
3.      Nyalakan radio atau televise untuk mengetahui informasi dari instansi pemerintah.
4.      Jika getaran gempa cukup kuat, dirikanlah untuk sementara tenda-tenda darurat di halaman atau tanah lapang untuk menghindari gempa susulan.
5.      Periksa keadaan rumah dan sekeliling rumah Anda, jika terdapat puing-puing segera dibersihkan.


TSUNAMI

Penanggulangan Bencana Tsunami

Mungkin kata “Bencana” sudah sering terdengar baik itu di media seperti televisi, koran, radio maupun media lainnya. pada dasarnya bencana adalah sesuatu kejadian buruk yang terjadi pada seseorang maupun sekelompok orang. misalnya saja bencana Tsunami, Banjir, Gempa Bumi, Gunung Merapi dan sebagainya yang mengakibatkan tidak sedikit orang kehilangan harta benda bahkan nyawa. Tsunami adalah sebuah bencana yang dahsyat  di aceh saja pada tahun 2004 diperkirakan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. dikarenakan hal itu penanggulangan bencana tsunami sangat diperlukan guna meminimalisasi dampak negatif dari bencana itu sendiri.
penanggulangan tsunami.:
1. apabila terdengar gemuruh dahsyat yang berasal dari laut segeralah berlari menuju tempat yang lebih tinggi dan beri tahu warga sekitar guna mencari tempat yang aman.
2. apabila sudah tidak sempat berlari ke tempat yang lebih tinggi seperti bukit, gunung dan sebagainya carilah rumah bertingkat yang tinggi agar tidak terseret ombak tsunami.
3. apabila dari keduanya sudah tidak memungkinkan naiklah ke atas pohon yang cukup tinggi dan kokoh seperti pohon kelapa dan lainnya.
4. jangan turun dari tempat tinggi sebelum ada pengumuman bahwa situasi telah aman dari badan seperti BMKG dan lainnya.
5. Tolonglah korban lain yang luka- luka terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman
6. Apabila ada anggota keluarga yang hilang maka carilah di posko-posko penanggulangan bencana.


Upaya Penanggulangan Bencana Tanah Longsor
1.     Menutup retakan pada atas tebing dengan material lempung. 
2.      Menanami lereng dengan tanaman serta memperbaiki tata air dan guna lahan. 
3.      Waspada terhadap mata air/rembesan air pada lereng. 
4.      Waspada padsa saat curah hujan yang tinggi pada waktu yang lama.
  1. Tanam pohon. Gerakan sejuta pohon yang dicanangkan pemerintah harus segera direalisasikan. Jangan indah dalam kata, namun miskin aksi nyata. Menanam pohon akan membuat tanah menjadi segar kembali. Asri dan sejuk. Fungsinya pun akan kembali sebagai penjaga keseimbangan kehidupan manusia, bukan perusak kehidupan manusia.
  2. Tata ruang. Kebijakan makro oleh pemerintah daerah tercermin dari pengelolaan tata wilayah. Berapa persen ruang terbuka hijau yang dialokasikan. Apa kebijakan pemerintah mengenai pembangunan mall. Ini terpusat pada rencana tata ruang dan wilayah. Tata ruang yang baik akan memberikan porsi yang banyak untuk kawasan hijau.
  3. Cagar alam. Sekiranya daerah tanah tersebut memang rawan diganggu tangan-tangan jahil, sebaiknya dijadikan cagar alam saja. Pengawasan serius oleh pihak keamanan. Jadi, masyarakat yang membandel mau melakukan pembalakan liar atau pembangunan rumah bisa dicegah. Model kebijakan ini penting untuk aksi preventif. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan. Sedia hutan sebelum tanah longsor.
  4. Relokasi. Kebijakan ini pasti akan menuai kontroversi karena menyedot dana yang tidak sedikit. Namun, relokasi dapat dipertimbangkan serius jika beban ancaman bagi masyarakat dirasa besar. Menyangkut nyawa, kita harus zero tolerance. Relokasi berguna sekali untuk menghilangkan potensi tanah longsor yang sudah sangat berbahaya.
  5. Early warning system. Selayaknya bencana tsunami, tanah longsor pun mesti mempunyai early warning system. How? Jika pemerintah mau serius, bisa menempatkan aparatur kemananan di daerah rawan tanah longsor. Korban yang berjatuhan selama ini kerap dikaitkan kelambatan informasi yang diterima.



Upaya Penanggulangan Bencana Kebakaran hutan
Upaya untuk menangani bencana kebakaran hutan dilakukan dalam dua cara yaitu penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif. Penanganan yang bersifat represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak yang untuk mengatasi kebakaran hutan setelah terjadi bencana kebakaran hutan. Penanganan jenis ini misalnya pemadaman, proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja), dan lain-lainnya. Sedangkan, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan (Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konversi Alam, 2002). Jadi, penanganan bencana kebakaran dapat dilakuka dengan kedua cara tersebut. Tindakan preventif sudah dilakukan oleh pemerintah begitu juga dengan tindakan represif seperti pemadaman dari udara dengan helikopter yang membawa kubikan air. Namun, upaya pemadaman tersebut juga sering mengalami kendala seperti asap yang tebal dan tiupan angin yang kencang sehingga sulit untuk memadamkan hutan dengan cepat. Selain itu, pelatihan pemadaman juga perlu diberikan agar pada saat menghadapi bencana kebakaran hutan tersebut sudah terkoordinasi cara menanganinya. Kemudian, pemerintah juga harus mengawasi atau melakukan pemantauan terhadap aparat atau kepolisian hutan atau yang bertanggungjawab terhadap pengolahan hutan di Indonesia agar senantiasa melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan agar tidak lalai dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut diperlukan karena banyak manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab seenaknya saja mengambil sumber daya alam yang ada di hutan tanpa memikirkan kelestarian hutan. Kesadaran masyarakat juga sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian hutan agat terhindar dari bencana kebakaran hutan yang tidak kita inginkan.

Upaya Penanggulangan Gunung Meletus
Letusan Gunung berapi adalah meletusnya gunung berapi yang masih aktif dan mengeluarkan berbagai material perut gunung tersebut. Letusan Gunung berapi seiring dengan pesatnya tehnologi, dapat diprediksi, meski belum 100 persen benar, tapi paling tidak prediksi tersebut bisa mendekati kebenaran, sehingga langkah-langkah antisipasi dini untuk meminimalisir korban dapat ditekan. Berikut tips sederhana jika terjadi letusan gunung berapi:
Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi
• Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.
• Membuat perencanaan penanganan bencana.
• Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.
• Mempersiapkan kebutuhan dasar
Jika Terjadi Letusan Gunung Berapi
• Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
• Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
• Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
• Jangan memakai lensa kontak.
• Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
• Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi
• Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
• Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
• Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin
MITIGASI BENCANA GUNUNG BERAPI
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
1. Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.
2. Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.
3. Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
4. Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.
5. Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar